Showing posts with label Android. Show all posts
Showing posts with label Android. Show all posts

Bocor, Jeroan Dahsyat Galaxy S6

9:37 PM Add Comment
CELLULER NEWS - Bocoran spesikasi Galaxy S6 segera beredar menyusul kabar bahwa Samsung sedang mengembangkan perangkat tersebut di markas besarnya di Korea Selatan.

Andalan Samsung saat ini, Galaxy S5, yang akan digantikan oleh Galaxy S6
Andalan Samsung saat ini, Galaxy S5, yang akan digantikan oleh Galaxy S6
Sebagaimana dikutip KompasTekno dari GSM Arena (5/11/2014), "sumber internal" amsung menyebutkan bahwa Galaxy S6 bakal memiliki layar quad-HD (2560x1440) seperti Galaxy Note 4.

Aspek lain yang disinyalir juga sama dangan Galaxy Note 4 adalah kamera, di mana Galaxy S6 disebutkan bakal turut memakai sensor bikinan Sony. Tapi masih belum diketahui apakah Samsung akan memilih sensor 16 megapixel atai 20 megapixel.

Di bagian muka akan tertanam unit kamera sekunder dengan resolusi 5 megapixel, sama dengan yang ditemukan pada seri ponsel Galaxy A.

Jeroannya sendiri mencakup prosesor Exynos 7420 yang merupakan chip mobile 64-bit pertama dari Samsung, dengan empat core Cortex-A57 dan empat core Cortex-A53.

Akan ada versi lain dari Galaxy S6 yang dibekali prosesor Qualcomm, kemungkinan tipe Snapdragon 810 yang juga mengusung dukungan 64-bit high-end.

Samsung disinyalir akan meninggalkan media internal berkapasitas 16 GB. Jadi, Galaxy S6 bakal memiliki pilihan kapasitas media internal mulai 32 GB. Boleh jadi akan ada pula varian 64 GB dan 128 GB.

Galaxy S6 dipanggil dengan kode sandi "Project Zero" di kalangan internal Samsung. Ini karena perangkat itu kabarnya benar-benar dirancang dari nol, baik dari segi desain maupun kemungkinan materi yang digunakan. [Kompas.com]

Spesifikasi dan Harga LG G2 Mini - 8 GB Putih Baru

4:46 PM Add Comment
CELLULER NEWS - LG menunjukkan tajinya untuk bersaing di pasar smartphone global. LG G2 Mini, smartphone dengan layar berukuran 4.7". Didukung dengan kamera 8 MP, Anda dapat mengabadikan momen berharga bersama kerabat atau keluarga. Layar LCD kapasitif, dengan kamera 8 MP, cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda dari bisnis hingga multimedia.

Deskripsi Produk LG G2 Mini - 8 GB

Performa Quad Core
Dibekali dengan prosesor Quad Core Qualcomm Snapdragon 400 berkecepatan 1.2 GHz dipadu dengan memori RAM 1 GB membuat LG G2 Mini menjadi smartphone dengan kinerja yang luar biasa handal. Mainkan game terbaru, tonton film tanpa lag dan rasakan transisi antarmuka yang begitu cepat dan responsif.

4.7" IPS LCD
Spesifikasi dan Harga LG G2 Mini - 8 GB Putih BaruAnda akan terkesima dengan betapa menawannya layar dari LG G2 Mini. Tampil dengan layar beresolusi 540 x 960 piksel, kualitas gambar akan tampil dengan tajam, jelas, natural dan penuh detail. Layar IPS sendiri mampu mengurangi distorsi warna dan kehilangan kontras saat berada pada sudut pandang yang miring dan tipis. Nikmati pengalaman multimedia yang lebih hidup dan nyata ketika Anda bermain games, menonton video ataupun multimedia lainnya dengan kualitas gambar yang memukau.

Kamera 8 MP
Bidik gambar dengan tajam, detail dan kualitas tinggi dengan kamera beresolusi 8 MP yang dapat menghasilkan gambar yang jernih dan tajam. Selain itu, Anda juga dapat merekam video untuk mengabadikan momen berharga. Didukung dengan secondary kamera 1.3 MP yang memberi Anda kemudahan untuk mengambil gambar atau pun melakukan aktivitas seperti video call.

Spesifikasi LG G2 Mini - 8 GB
  • Ukuran (L x W x H cm): 12.9 x 6.6 x 0.98
  • Berat (kg): 0.121
  • Warna: Putih
  • Ukuran Layar (in): 4.7
  • RAM: 1
  • Kapasitas Penyimpanan: 8
  • Kecepatan CPU: 1.20
  • Megapiksel: 8.0
  • Sistem Operasi Android
  • Fitur: GSM|Primary Camera|Bluetooth|3G|Email|Wi-Fi|GPS|Secondary Camera|MP3
  • Garansi produk: 1 Tahun Garansi Resmi LG
  • Input: USB
  • Koneksi Nirkabel: Bluetooth|WiFi|3G
  • Kamera: Ya
  • Kamera Belakang: 8 MP
  • Kamera Depan: 1.3 MP
  • USB Port: USB 2.0
  • Resolusi Layar : 540 x 960
  • Tipe Baterai: LiIon
  • Kapasitas Baterai: 2440 mAh
  • Ukuran File Foto: 3264x2448
  • Video HD: Ya
  • Built in Flash: Ya, LED
  • Tipe Memory Card: microSD
  • HDMI Port: Tidak
  • Tipe Layar: IPS Kapasi
  • Kedalaman Warna: 16juta warna
  • Versi Sistem Operasi: Android 4.4 Kitkat
  • SIM: Dual SIM
  • Kapasitas Penyimpanan: 8 GB
  • Kecepatan Processor: 1.2 GHz

Harga LG G2 Mini - 8 GB Putih Baru
Harga: RP 2.499.000

Spesifikasi dan Harga Sony Xperia Z3 - 16 GB - Hitam

4:34 PM Add Comment
CELLULER NEWS - Setelah sukses meluncurkan varian smartphone high-end terbarunya, Sony Mobile kembali menawarkan smartphone di segmen pasar premium yaitu Sony Xperia Z3. Hadir sebagai penerus Sony Xperia Z2, smartphone dengan layar full HD ini dikemas dengan layar 5.2" TRILUMINOS dengan X-Reality untuk ponsel. Sama seperti seri Sony Xperia Z sebelumnya, Sony juga telah membekali fitur tahan debu dan air yang telah diperbarui, dengan sertifikat IP65 dan IP68 (hingga kedalaman 1.5 meter dalam waktu 30 menit). Sony Xperia Z3 ini juga merupakan ponsel pertama yang memiliki PS4 Remote play yang akan memungkinkan Anda untuk menggunakan ponsel ini sebagai layar kedua untuk menonton permainan teman-teman Anda dari jauh.


Deskripsi Produk Sony Xperia Z3 - 16 GB - Hitam

Layar 5.2" Full HD TRILUMINOS
Spesifikasi dan Harga Sony Xperia Z3 - 16 GB - HitamSony Xperia Z3 siap membuat Anda terpukau dengan kualitas layarnya yang di luar ekspektasi Anda. Layar IPS sebesar 5.2" yang dikelilingi bingkai tipis membuat bentuknya tidak melebar dan nyaman digenggam. Teknologi Full HD beresolusi 1920 x 1080 piksel dipadu dengan TRILUMINOS menampilkan warna asli yang kaya dan meproduksi warna-warna yang sulit dihasilkan seperti merah biru dan hijau. Teknologi X-Reality memberikan gambar yang lebih jelas dan hidup serta peningkatkan kontras dan warna. Kini, pengalaman menonton yang lebih natural dan detail yang biasa Anda dapatkan di layar HD TV juga dapat Anda temukan di Sony Xperia Z3.

Desain Premium
Sony Xperia Z3 dirancang dengan material berkualitas premium sehingga tidak hanya kokoh namun juga memberikan kesan elegan. Frame bahan aluminium membuat smartphone ini terasa lebih ringan dibanding Xperia Z2. Bodi depan dan belakangnya dilapisi dengan tempered glass yang memberi kesan mewah. Sementara sisi sampingnya yang terbuat dari aluminium menjadikan tampilannya terlihat manis dan memberikan kenyamanan ketika Anda genggam.

Anti Air & Tahan Debu
Mengantongi sertifikat internasional IP65 dan IP68, Xperia Z3 mampu bertahan di dalam air hingga kedalaman 1.5 meter selama 30 menit. Namun perlu diingatkan bahwa Anda harus menutup rapat semua port untuk USB mikro, slot micro SIM dan slot kartu memori.

Performa Quad Core & Android Kit Kat
Rasakan performa bertenaga, menjalankan multitasking, browsing internet dengan lebih cepat serta streaming tanpa putus berkat prosesor Quad Core berkecepatan 2.5 GHz dengan chipset Qualcomm MSM8974AC Snapdragon 801. Sony Xperia Z3 juga telah dibekali sistem operasi Android terbaru (Kit Kat versi 4.4.4).

Kamera 20.7 MP Exmor RS
Spesifikasi dan Harga Sony Xperia Z3 - 16 GB - HitamAbadikan setiap momen-momen berharga Anda dengan foto atau video berkualitas tinggi dengan detail yang menakjubkan dimanapun dan kapanpun dengan menggunakan Sony Xperia Z3. Smartphone Sony keluaran terbaru ini dilengkapi dengan sensor 1/2.3" Exmor RS beresolusi 20.7 MP dan mesin pemroses BIONZ sehingga ponsel dapat bekerja bersama untuk memberikan foto dan video dalam detail tajam dan lebih hidup. Sony Xperia Z3 ini juga dilengkapi dengan Sony G Lens 25mm yang akan membuat lebih banyak objek pada setiap bidikan dengan sudut yang luas dan terbaru. Apabila Anda ingin mengabadikan matahari terbenam yang menganggumkan ISO 12800 yang dibenamkan pada Sony Xperia Z3 ini akan memberikan detail yang lebih baik, bahkan dalam pencahayaan yang rendah. Bukan hanya mengambil foto dengan hasil yang lebih baik, Sony Xperia Z3 ini juga dapat merekam video dengan kualitas yang baik kadilengkapi dengan teknologi SteadyShot dengan Intelligent Active Mode yang akan mengimbangi pergerakan Anda, serta menganalisa lusinan frame maju dan mundur untuk memperediksikan gerakan selanjutnya, sehingga panning menjadi lebih halus serta gambar yang direkam akan lebih stabil. Rekam juga momen favorit Anda dengan video kualitas Full HD 2160p@30fps pada kedua kameranya. Kini, Anda tak akan lagi kehilangan momen berharga Anda dengan kualitas yang mengagumkan.

PS4 Remote Play
Sony Xperia Z3 merupakan salah satu ponsel premium dari Sony yang memiliki penambahan PS4 Remote Play. Kini Anda dapat menggunakan Xperia Z3 sebagai layar jarak jauh untuk terhubung dan memainkan game pada PS4. Cukup dengan menghubungkan Sony Xperia Z3 pada PS4 melalui koneksi WiFi dan gunakan Wireless Controller Dualshock 4 dengan GCM10 Game Control Mount untuk terus bermain di mana saja di rumah pada Xperia Z3 dan Xperia Z3 Compact. Sony Xperia Z3 juga dapat dijadikan layar kedua untuk menonton permainan teman-teman Anda dari jauh.

Sebuah Smartphone dengan Daya Tahan Baterai Hingga 2 Hari
Sony Xperia Z3 menggabungkan bahan-bahan premium dengan teknologi terbaik dari Sony, yang akan memberikan pengalaman smartphone yang lebih baik pada setiap jam dan setiap harinya. Smartphone keluaran terbaru dari Sony ini akan memungkinkan Anda melakukan lebih dibandingkan dengan smartphone terdahulunya tanpa gangguan dengan baterai berkapasitas 3100mAh yang akan mendorong kemampuan daya untuk memberikan Anda masa hidup baterai tahan lama hingga dua hari. Atau, dapatkan lebih banyak lagi dari baterai Anda melalui Mode Baterai STAMINA Sony, yang mematikan fungsi latar ketika sedang tidak digunakan untuk membantu menghemat daya baterai Anda.

Konektivitas
Sony Xperia Z3 merupakan smartphone dari Sony Mobile yang telah mendukung teknologi LTE atau 4G. Meskipun di Indonesia belum mendukung jaringan ini, pihak Sony telah menyiapkan dukungan koneksi LTE yang beroperasi pada frekuensi 800MHz. Anda tetap dapat menggunakan jaringan HSDPA untuk berselancar di internet dan tetap terhubung pada setiap saat dimanapun Anda berada. Untuk melengkapi kegiatan nirkabel Anda, smartphone ini juga dibekali Wi-Fi. Tersedia juga teknologi NFC yang akan memudahkan Anda untuk menghubungkan perangkat dan berbagi dengan lebih dari 160 poduk berkemampuan One-Touch, seperti TV, headphone dan SmartWear, serta SmartVand Talk SWR30 terbaru.

Harga Sony Xperia Z3 - 16 GB - Hitam
Harga: RP 7.999.000

Spesifikasi Sony Xperia Z3 - 16 GB - Hitam
  • Ukuran (L x W x H cm): 14.6 x 7.2 x 0.73
  • Berat (kg): 0.152
  • Warna: Hitam
  • Ukuran Layar (in): 5.2
  • Hard Disk: 16
  • RAM: 3
  • Kapasitas Penyimpanan: 16
  • Kecepatan CPU: 2.50
  • Megapiksel: 20.7
  • Sistem Operasi: Android
  • Fitur Tampilan: Full HD
  • Fitur: GSM|Music Player|Primary Camera|Bluetooth|3G|Email|Touchscreen|Wi-Fi|Secondary Camera|HD Recording|Full HD |SD Card|Li-Ion|Waterproof|Image Stabilization|Internet Ready
  • Garansi produk: 1 Tahun Garansi
  • Input: USB
  • Output: 3.5mm jack|USB
  • Koneksi Nirkabel: Near Field Communication (NFC)|Bluetooth|WiFi|3G
  • Tipe Memori: Snapdragon
  • Tipe Grafis: Adreno 330
  • Kamera: Ya
  • Kamera Belakang: 20.7 MP
  • Kamera Depan: 2.2 MP
  • USB Port: Ya
  • Resolusi Layar: 1080 x 192
  • Tipe Baterai: Li-Ion
  • Kapasitas Baterai: 3100 mAh
  • Built in Flash: Ya
  • Built in Memory: Ya
  • Tipe Memory Card: MicroSD
  • Tipe Layar: Triluminos
  • Kedalaman Warna: 16 Juta Warna
  • Versi Sistem Operasi: Android 4.4.4 Kit Kat
  • SIM: Single SIM
  • Kapasitas Penyimpanan: 16 GB
  • Kecepatan Processor: 2.5 GHz
  • Tipe Processor: Snapdragon 801

Sumber: Lazada.co.id

Sejarah dan Perkembangan Android Sebagai Sistem Operasi Smartphone

11:48 AM Add Comment
CELLULER NEWS - Android adalah sistem operasi berbasis Linux yang dirancang untuk perangkat seluler layar sentuh seperti telepon pintar dan komputer tablet. Android awalnya dikembangkan oleh Android, Inc., dengan dukungan finansial dari Google, yang kemudian membelinya pada tahun 2005. Sistem operasi ini dirilis secara resmi pada tahun 2007, bersamaan dengan didirikannya Open Handset Alliance, konsorsium dari perusahaan-perusahaan perangkat keras, perangkat lunak, dan telekomunikasi yang bertujuan untuk memajukan standar terbuka perangkat seluler. Ponsel Android pertama mulai dijual pada bulan Oktober 2008.

Sejarah dan Perkembangan Android Sebagai Sistem Operasi Smartphone

Antarmuka pengguna Android didasarkan pada manipulasi langsung, menggunakan masukan sentuh yang serupa dengan tindakan di dunia nyata, seperti menggesek, mengetuk, mencubit, dan membalikkan cubitan untuk memanipulasi obyek di layar. Android adalah sistem operasi dengan sumber terbuka, dan Google merilis kodenya di bawah Lisensi Apache. Kode dengan sumber terbuka dan lisensi perizinan pada Android memungkinkan perangkat lunak untuk dimodifikasi secara bebas dan didistribusikan oleh para pembuat perangkat, operator nirkabel, dan pengembang aplikasi. Selain itu, Android memiliki sejumlah besar komunitas pengembang aplikasi (apps) yang memperluas fungsionalitas perangkat, umumnya ditulis dalam versi kustomisasi bahasa pemrograman Java. Pada bulan Oktober 2012, ada sekitar 700.000 aplikasi yang tersedia untuk Android, dan sekitar 25 juta aplikasi telah diunduh dari Google Play, toko aplikasi utama Android. Sebuah survey pada bulan April-Mei 2013 menemukan bahwa Android adalah platform paling populer bagi para pengembang, digunakan oleh 71% pengembang aplikasi seluler.

Faktor-faktor di atas telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan Android, menjadikannya sebagai sistem operasi telepon pintar yang paling banyak digunakan di dunia, mengalahkan Symbian pada tahun 2010. Android juga menjadi pilihan bagi perusahaan teknologi yang menginginkan sistem operasi berbiaya rendah, bisa dikustomisasi, dan ringan untuk perangkat berteknologi tinggi tanpa harus mengembangkannya dari awal. Akibatnya, meskipun pada awalnya sistem operasi ini dirancang khusus untuk telepon pintar dan tablet, Android juga dikembangkan menjadi aplikasi tambahan di televisi, konsol permainan, kamera digital, dan perangkat elektronik lainnya. Sifat Android yang terbuka telah mendorong munculnya sejumlah besar komunitas pengembang aplikasi untuk menggunakan kode sumber terbuka sebagai dasar proyek pembuatan aplikasi, dengan menambahkan fitur-fitur baru bagi pengguna tingkat lanjut atau mengoperasikan Android pada perangkat yang secara resmi dirilis dengan menggunakan sistem operasi lain.

Pada November 2013, Android menguasai pangsa pasar telepon pintar global, yang dipimpin oleh produk-produk Samsung, dengan persentase 64% pada bulan Maret 2013. Pada Juli 2013, terdapat 11.868 perangkat Android berbeda dengan beragam versi. Keberhasilan sistem operasi ini juga menjadikannya sebagai target ligitasi paten "perang telepon pintar" antar perusahaan-perusahaan teknologi. Hingga bulan Mei 2013, total 900 juta perangkat Android telah diaktifkan di seluruh dunia, dan 48 miliar aplikasi telah dipasang dari Google Play. Pada tanggal 3 September 2013, 1 miliar perangkat Android telah diaktifkan.

Sejarah dan Perkembangan Andoid
Android, Inc. didirikan di Palo Alto, California, pada bulan Oktober 2003 oleh Andy Rubin (pendiri Danger), Rich Miner (pendiri Wildfire Communications, Inc.), Nick Sears (mantan VP T-Mobile), dan Chris White (kepala desain dan pengembangan antarmuka WebTV) untuk mengembangkan "perangkat seluler pintar yang lebih sadar akan lokasi dan preferensi penggunanya". Tujuan awal pengembangan Android adalah untuk mengembangkan sebuah sistem operasi canggih yang diperuntukkan bagi kamera digital, namun kemudian disadari bahwa pasar untuk perangkat tersebut tidak cukup besar, dan pengembangan Android lalu dialihkan bagi pasar telepon pintar untuk menyaingi Symbian dan Windows Mobile (iPhone Apple belum dirilis pada saat itu). Meskipun para pengembang Android adalah pakar-pakar teknologi yang berpengalaman, Android Inc. dioperasikan secara diam-diam, hanya diungkapkan bahwa para pengembang sedang menciptakan sebuah perangkat lunak yang diperuntukkan bagi telepon seluler. Masih pada tahun yang sama, Rubin kehabisan uang. Steve Perlman, seorang teman dekat Rubin, meminjaminya $10.000 tunai dan menolak tawaran saham di perusahaan.

Google mengakuisisi Android Inc. pada tanggal 17 Agustus 2005, menjadikannya sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Google. Pendiri Android Inc. seperti Rubin, Miner dan White tetap bekerja di perusahaan setelah diakuisisi oleh Google. Setelah itu, tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan Android Inc., namun banyak anggapan yang menyatakan bahwa Google berencana untuk memasuki pasar telepon seluler dengan tindakannya ini. Di Google, tim yang dipimpin oleh Rubin mulai mengembangkan platform perangkat seluler dengan menggunakan kernel Linux. Google memasarkan platform tersebut kepada produsen perangkat seluler dan operator nirkabel, dengan janji bahwa mereka menyediakan sistem yang fleksibel dan bisa diperbarui. Google telah memilih beberapa mitra perusahaan perangkat lunak dan perangkat keras, serta mengisyaratkan kepada operator seluler bahwa kerjasama ini terbuka bagi siapapun yang ingin berpartisipasi.

Spekulasi tentang niat Google untuk memasuki pasar komunikasi seluler terus berkembang hingga bulan Desember 2006. BBC dan Wall Street Journal melaporkan bahwa Google sedang bekerja keras untuk menyertakan aplikasi dan mesin pencarinya di perangkat seluler. Berbagai media cetak dan media daring mengabarkan bahwa Google sedang mengembangkan perangkat seluler dengan merek Google. Beberapa di antaranya berspekulasi bahwa Google telah menentukan spesifikasi teknisnya, termasuk produsen telepon seluler dan operator jaringan. Pada bulan Desember 2007, InformationWeek melaporkan bahwa Google telah mengajukan beberapa aplikasi paten di bidang telepon seluler.

Pada tanggal 5 November 2007, Open Handset Alliance (OHA) didirikan. OHA adalah konsorsium dari perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, produsen perangkat seluler seperti HTC, Sony dan Samsung, operator nirkabel seperti Sprint Nextel dan T-Mobile, serta produsen chipset seperti Qualcomm dan Texas Instruments. OHA sendiri bertujuan untuk mengembangkan standar terbuka bagi perangkat seluler. Saat itu, Android diresmikan sebagai produk pertamanya; sebuah platform perangkat seluler yang menggunakan kernel Linux versi 2.6. Telepon seluler komersial pertama yang menggunakan sistem operasi Android adalah HTC Dream, yang diluncurkan pada 22 Oktober 2008.

Pada tahun 2010, Google merilis seri Nexus; perangkat telepon pintar dan tablet dengan sistem operasi Android yang diproduksi oleh mitra produsen telepon seluler seperti HTC, LG, dan Samsung. HTC bekerjasama dengan Google dalam merilis produk telepon pintar Nexus pertama, yakni Nexus One. Seri ini telah diperbarui dengan perangkat yang lebih baru, misalnya telepon pintar Nexus 4 dan tablet Nexus 10 yang diproduksi oleh LG dan Samsung. Pada 13 Maret 2013, Larry Page mengumumkan dalam postingan blognya bahwa Andy Rubin telah pindah dari divisi Android untuk mengerjakan proyek-proyek baru di Google. Ia digantikan oleh Sundar Pichai, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala divisi Google Chrome, yang mengembangkan Chrome OS.

Sejak tahun 2008, Android secara bertahap telah melakukan sejumlah pembaruan untuk meningkatkan kinerja sistem operasi, menambahkan fitur baru, dan memperbaiki bug yang terdapat pada versi sebelumnya. Setiap versi utama yang dirilis dinamakan secara alfabetis berdasarkan nama-nama makanan pencuci mulut atau cemilan bergula; misalnya, versi 1.5 bernama Cupcake, yang kemudian diikuti oleh versi 1.6 Donut. Versi terbaru adalah 4.4 KitKat, yang dirilis pada 31 Oktober 2013.

Fitur Android
Antarmuka
Antarmuka pengguna pada Android didasarkan pada manipulasi langsung, menggunakan masukan sentuh yang serupa dengan tindakan di dunia nyata, misalnya menggesek (swiping), mengetuk (tapping), dan mencubit (pinching), untuk memanipulasi obyek di layar. Masukan pengguna direspon dengan cepat dan juga tersedia antarmuka sentuh layaknya permukaan air, seringkali menggunakan kemampuan getaran perangkat untuk memberikan umpan balik haptik kepada pengguna. Perangkat keras internal seperti akselerometer, giroskop, dan sensor proksimitas digunakan oleh beberapa aplikasi untuk merespon tindakan pengguna, misalnya untuk menyesuaikan posisi layar dari potret ke lanskap, tergantung pada bagaimana perangkat diposisikan, atau memungkinkan pengguna untuk mengarahkan kendaraan saat bermain balapan dengan memutar perangkat sebagai simulasi kendali setir.

Ketika dihidupkan, perangkat Android akan memuat pada layar depan (homescreen), yakni navigasi utama dan pusat informasi pada perangkat, serupa dengan desktop pada komputer pribadi. Layar depan Android biasanya terdiri dari ikon aplikasi dan widget; ikon aplikasi berfungsi untuk menjalankan aplikasi terkait, sedangkan widget menampilkan konten secara langsung dan terbarui otomatis, misalnya prakiraan cuaca, kotak masuk surel pengguna, atau menampilkan tiker berita secara langsung dari layar depan. Layar depan bisa terdiri dari beberapa halaman, pengguna dapat menggeser bolak balik antara satu halaman ke halaman lainnya, yang memungkinkan pengguna Android untuk mengatur tampilan perangkat sesuai dengan selera mereka. Beberapa aplikasi pihak ketiga yang tersedia di Google Play dan di toko aplikasi lainnya secara ekstensif mampu mengatur kembali tema layar depan Android, dan bahkan bisa meniru tampilan sistem operasi lain, misalnya Windows Phone. Kebanyakan produsen telepon seluler dan operator nirkabel menyesuaikan tampilan perangkat Android buatan mereka untuk membedakannya dari pesaing mereka.

Di bagian atas layar terdapat status bar, yang menampilkan informasi tentang perangkat dan konektivitasnya. Status bar ini bisa "ditarik" ke bawah untuk membuka layar notifikasi yang menampilkan informasi penting atau pembaruan aplikasi, misalnya surel diterima atau SMS masuk, dengan cara tidak mengganggu kegiatan pengguna pada perangkat. Pada versi awal Android, layar notifikasi ini bisa digunakan untuk membuka aplikasi yang relevan, namun setelah diperbarui, fungsi ini semakin disempurnakan, misalnya kemampuan untuk memanggil kembali nomor telepon dari notifikasi panggilan tak terjawab tanpa harus membuka aplikasi utama. Notifikasi ini akan tetap ada sampai pengguna melihatnya, atau dihapus dan di nonaktifkan oleh pengguna.

Aplikasi
Android memungkinkan penggunanya untuk memasang aplikasi pihak ketiga, baik yang diperoleh dari toko aplikasi seperti Google Play, Amazon Appstore, ataupun dengan mengunduh dan memasang berkas APK dari situs pihak ketiga. Di Google Play, pengguna bisa menjelajah, mengunduh, dan memperbarui aplikasi yang diterbitkan oleh Google dan pengembang pihak ketiga, sesuai dengan persyaratan kompatibilitas Google. Google Play akan menyaring daftar aplikasi yang tersedia berdasarkan kompatibilitasnya dengan perangkat pengguna, dan pengembang dapat membatasi aplikasi ciptaan mereka bagi operator atau negara tertentu untuk alasan bisnis. Pembelian aplikasi yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna dapat dikembalikan dalam waktu 15 menit setelah pengunduhan. Beberapa operator seluler juga menawarkan tagihan langsung untuk pembelian aplikasi di Google Play dengan cara menambahkan harga pembelian aplikasi pada tagihan bulanan pengguna. Pada bulan September 2012, ada lebih dari 675.000 aplikasi yang tersedia untuk Android, dan perkiraan jumlah aplikasi yang diunduh dari Play Store adalah 25 miliar.

Aplikasi Android dikembangkan dalam bahasa pemrograman Java dengan menggunakan kit pengembangan perangkat lunak Android (SDK). SDK ini terdiri dari seperangkat perkakas pengembangan, termasuk debugger, perpustakaan perangkat lunak, emulator handset yang berbasis QEMU, dokumentasi, kode sampel, dan tutorial. Didukung secara resmi oleh lingkungan pengembangan terpadu (IDE) Eclipse, yang menggunakan plugin Android Development Tools (ADT). Perkakas pengembangan lain yang tersedia di antaranya adalah Native Development Kit untuk aplikasi atau ekstensi dalam C atau C++, Google App Inventor, lingkungan visual untuk pemrogram pemula, dan berbagai kerangka kerja aplikasi web seluler lintas platform.

Dalam rangka menghadapi penyensoran Internet di Republik Rakyat Tiongkok, perangkat Android yang dijual di RRT umumnya disesuaikan dengan layanan yang disetujui oleh negara.

Pengelolaan memori
Karena perangkat Android umumnya bertenaga baterai, Android dirancang untuk mengelola memori (RAM) guna menjaga konsumsi daya minimal, berbeda dengan sistem operasi desktop yang bisa terhubung pada sumber daya listrik tak terbatas. Ketika sebuah aplikasi Android tidak lagi digunakan, sistem secara otomatis akan menangguhkannya (suspend) dalam memori – secara teknis aplikasi tersebut masih "terbuka", namun dengan ditangguhkan, aplikasi tidak akan mengkonsumsi sumber daya (misalnya daya baterai atau daya pemrosesan), dan akan "diam" di latar belakang hingga aplikasi tersebut digunakan kembali. Cara ini memiliki manfaat ganda, tidak hanya meningkatkan respon perangkat Android karena aplikasi tidak perlu ditutup dan dibuka kembali dari awal setiap saat, tetapi juga memastikan bahwa aplikasi yang berjalan di latar belakang tidak menghabiskan daya secara sia-sia.

Android mengelola aplikasi yang tersimpan di memori secara otomatis: ketika memori lemah, sistem akan menonaktifkan aplikasi dan proses yang tidak aktif untuk sementara waktu, aplikasi akan dinonaktifkan dalam urutan terbalik, dimulai dari yang terakhir digunakan. Proses ini tidak terlihat oleh pengguna, jadi pengguna tidak perlu mengelola memori atau menonaktifkan aplikasi secara manual. Namun, kebingungan pengguna atas pengelolaan memori pada Android telah menyebabkan munculnya beberapa aplikasi task killer pihak ketiga yang populer di Google Play.

Persyaratan perangkat keras
Hingga November 2013, versi terbaru Android membutuhkan setidaknya 512 MB RAM, prosesor ARMv7 32-bit, arsitektur MIPS, atau x86, serta unit pemroses grafis (GPU) kompatibel OpenGL ES 2.0.

Platform perangkat keras utama pada Android adalah arsitektur ARM. Ada juga dukungan untuk x86 dari proyek Android-x86, dan Google TV menggunakan versi x86 khusus Android. Pada tahun 2013, Freescale mengumumkan melibatkan Android dalam prosesor i.MX buatannya, yakni seri i.MX5X dan i.MX6X. Pada 2012, prosesor Intel juga mulai muncul pada platform utama Android, misalnya pada telepon seluler.

Beberapa komponen perangkat keras tidak diperlukan, namun sudah menjadi standar di perangkat tertentu. Beberapa fitur awalnya dibutuhkan sebagai persyaratan, namun kemudian ditiadakan. Setelah Android menjadi OS telepon pintar, beberapa perangkat keras, seperti mikrofon, lambat laun berubah menjadi perangkat opsional. Selain itu, kamera ditetapkan sebagai perangkat wajib bagi ponsel-ponsel Android. Perangkat Android menggabungkan berbagai komponen perangkat keras opsional, termasuk kamera video, GPS, sensor orientasi perangkat keras, kontrol permainan, akselerometer, giroskop, barometer, magnetometer, sensor proksimitas, sensor tekanan, termometer, dan layar sentuh.

Android mendukung OpenGL ES 1.1, 2.0, dan 3.0. Beberapa aplikasi secara eksplisit mengharuskan versi tertentu dari OpenGL ES, sehingga perangkat keras GPU yang cocok diperlukan bagi perangkat Android untuk menjalankan aplikasi tertentu.

Pengembangan
Android dikembangkan secara pribadi oleh Google sampai perubahan terbaru dan pembaruan siap untuk dirilis, dan informasi mengenai kode sumber juga mulai diungkapkan kepada publik. Kode sumber ini hanya akan berjalan tanpa modifikasi pada perangkat tertentu, biasanya pada seri Nexus. Ada binari tersendiri yang disediakan oleh produsen agar Android bisa beroperasi.

Logo Android
Logo Android (Google Image)
Logo Android yang berwarna hijau awalnya dirancang untuk Google pada tahun 2007 oleh desainer grafis Irina Blok. Tim desain ditugaskan dengan sebuah proyek untuk membuat sebuah ikon universal yang mudah dikenali dengan menyertakan ikon robot secara spesifik dalam desain akhir. Setelah sejumlah perkembangan desain yang didasarkan pada tema-tema fiksi ilmiah dan film luar angkasa, tim akhirnya mendapat inspirasi dari simbol manusia yang terdapat di pintu toilet, dan memodifikasi bentuknya menjadi bentuk robot. Karena Android adalah perangkat lunak sumber terbuka, disepakati bahwa logo tersebut juga harus terbuka, dan sejak diluncurkan, logo hijau tersebut telah didesain ulang kembali dalam berbagai variasi yang tak terhitung jumlahnya.

Keamanan dan privasi
Aplikasi Android berjalan di sandbox, sebuah area terisolasi yang tidak memiliki akses pada sistem, kecuali izin akses yang secara eksplisit diberikan oleh pengguna ketika memasang aplikasi. Sebelum memasang aplikasi, Play Store akan menampilkan semua izin yang diperlukan, misalnya: sebuah permainan perlu mengaktifkan getaran atau menyimpan data pada Kartu SD, tapi tidak perlu izin untuk membaca SMS atau mengakses buku telepon. Setelah meninjau izin tersebut, pengguna dapat memilih untuk menerima atau menolaknya, dan bisa memasang aplikasi hanya jika mereka menerimanya.

Sistem sandbox dan perizinan pada Android bisa mengurangi dampak kerentanan terhadap bug pada aplikasi, namun ketidaktahuan pengembang dan terbatasnya dokumentasi telah menghasilkan aplikasi yang secara rutin meminta izin yang tidak perlu, sehingga mengurangi efektivitasnya. Beberapa perusahaan keamanan perangkat lunak seperti Avast, Lookout Mobile Security, AVG Technologies, dan McAfee, telah merilis perangkat lunak antivirus ciptaan mereka untuk perangkat Android. Perangkat lunak ini sebenarnya tidak bekerja secara efektif karena sandbox juga bekerja pada aplikasi tersebut, sehingga membatasi kemampuannya untuk memindai sistem secara lebih mendalam.

Hasil penelitian perusahaan keamanan Trend Micro menunjukkan bahwa penyalahgunaan layanan premium adalah tipe perangkat perusak (malware) paling umum yang menyerang Android; pesan teks akan dikirim dari ponsel yang telah terinfeksi ke nomor telepon premium tanpa persetujuan atau sepengetahuan pengguna. Perangkat perusak lainnya akan menampilkan iklan yang tidak diinginkan pada perangkat, atau mengirim informasi pribadi pada pihak ketiga yang tak berwenang. Ancaman keamanan pada Android dilaporkan tumbuh secara bertahap, namun teknisi di Google menyatakan bahwa perangkat perusak dan ancaman virus pada Android hanya dibesar-besarkan oleh perusahaan antivirus untuk alasan komersial, dan menuduh industri antivirus memanfaatkan situasi tersebut untuk menjual produknya kepada pengguna. Google menegaskan bahwa keberadaan perangkat perusak berbahaya pada Android sebenarnya sangat jarang, dan survei yang dilakukan oleh F-Secure menunjukkan bahwa hanya 0,5% dari perangkat perusak Android yang berasal dari Google Play.

Google baru-baru ini menggunakan pemindai perangkat perusak Google Bouncer untuk mengawasi dan memindai aplikasi di Google Play. Tindakan ini bertujuan untuk menandai aplikasi yang mencurigakan dan memperingatkan pengguna atas potensi masalah pada aplikasi sebelum mereka mengunduhnya. Android versi 4.2 Jelly Bean dirilis pada tahun 2012 dengan fitur keamanan yang ditingkatkan, termasuk pemindai perangkat perusak yang disertakan dalam sistem; pemindai ini tidak hanya memeriksa aplikasi yang dipasang dari Google Play, namun juga bisa memindai aplikasi yang diunduh dari situs-situs pihak ketiga. Sistem akan memberikan peringatan yang memberitahukan pengguna ketika aplikasi mencoba mengirim pesan teks premium, dan memblokir pesan tersebut, kecuali jika pengguna mengijinkannya.

Telepon pintar Android memiliki kemampuan untuk melaporkan lokasi titik akses Wi-Fi, terutama jika pengguna sedang bepergian, untuk menciptakan basis data yang berisi lokasi fisik dari ratusan juta titik akses tersebut. Basis data ini membentuk peta elektronik yang bisa memosisikan lokasi telepon pintar. Hal ini memungkinkan pengguna untuk menjalankan aplikasi seperti Foursquare, Google Latitude, Facebook Places, dan untuk mengirimkan iklan berbasis lokasi. Beberapa perangkat lunak pemantau pihak ketiga juga bisa mendeteksi saat informasi pribadi dikirim dari aplikasi ke server jarak jauh. Sifat sumber terbuka Android memungkinkan perusahaan keamanan untuk menyesuaikan perangkat dengan penggunaan yang sangat aman. Misalnya, Samsung bekerjasama dengan General Dynamics melalui proyek "Knox" Open Kernel Labs.

Pada September 2013, terungkap bahwa badan intelijen Amerika Serikat dan Britania; NSA dan Government Communications Headquarters (GCHQ), memiliki akses terhadap data pengguna pada perangkat iPhone, Blackberry, dan Android. Mereka bisa membaca hampir keseluruhan informasi pada telepon pintar, termasuk SMS, lokasi, surel, dan catatan.

Lisensi
Kode sumber untuk Android tersedia di bawah lisensi perangkat lunak sumber terbuka dan bebas. Google menerbitkan sebagian besar kode (termasuk kode jaringan dan telepon) di bawah Lisensi Apache versi 2.0. Sisanya, perubahan kernel Linux berada di bawah GNU General Public License versi 2. Open Handset Alliance mengembangkan perubahan kernel Linux dengan kode sumber terbuka yang dipubikasikan setiap saat. Selebihnya, Android dikembangkan secara pribadi oleh Google, dengan kode sumber yang diterbitkan untuk umum ketika versi baru diluncurkan. Biasanya Google bekerjasama dengan produsen perangkat keras untuk mengembangkan sebuah perangkat "andalan" (misalnya seri Google Nexus) yang disertai dengan versi baru Android, kemudian menerbitkan kode sumbernya setelah perangkat tersebut dirilis.

Pada awal 2011, Google memilih untuk menahan sementara kode sumber Android untuk tablet yang dirilis dengan versi 3.0 Honeycomb. Menurut Andy Rubin dalam sebuah posting blog resmi Android, alasannya karena Honeycomb dirilis untuk berjalan pada produk Motorola Xoom, dan Google tidak ingin pihak ketiga "memperburuk pengalaman pengguna" dengan mencoba mengoperasikan versi Android yang ditujukan untuk tablet pada telepon pintar. Kode sumber tersebut akhirnya dipublikasikan pada bulan November 2011 dengan dirilisnya Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Meskipun bersifat terbuka, produsen perangkat tidak bisa menggunakan merek dagang Android Google seenaknya, kecuali Google menyatakan bahwa perangkat tersebut sesuai dengan Compatibility Definition Document (CDD) mereka. Perangkat juga harus memenuhi lisensi persyaratan aplikasi sumber tertutup Google, termasuk Google Play. Richard Stallman dan Free Software Foundation telah mengkritik mengenai rumitnya permasalahan merek Android ini, dan merekomendasikan sistem operasi alternatif seperti Replicant. Mereka berpendapat bahwa pemacu peranti dan perangkat tegar yang diperlukan untuk mengoperasikan Android bersifat eksklusif, dan Google Play juga menawarkan perangkat lunak berbayar.

Penerimaan
Android disambut dengan hangat ketika diresmikan pada tahun 2007. Meskipun para analis terkesan dengan perusahaan teknologi ternama yang bermitra dengan Google untuk membentuk Open Handset Alliance, masih diragukan apakah para produsen ponsel akan bersedia mengganti sistem operasinya dengan Android. Gagasan mengenai sumber terbuka dan platform pengembangan berbasis Linux telah menarik minat para pakar teknologi, tapi juga muncul kekhawatiran mengenai persaingan ketat yang akan dihadapi Android dengan pemain mapan di pasar telepon pintar seperti Nokia dan Microsoft. Nokia menanggapinya dengan menyatakan: "kami tidak melihat ini sebagai ancaman," sementara salah satu anggota tim Windows Mobile Microsoft menyatakan: "Saya tidak mengerti, dampak apa yang akan mereka hasilkan."

Android dengan cepat tumbuh menjadi sistem operasi telepon pintar yang paling banyak digunakan, dan menjadi "salah satu sistem operasi seluler tercepat yang pernah ada." Para peninjau memuji sifat sumber terbuka Android sebagai salah satu kekuatan yang menentukan keberhasilannya, memungkinkan perusahaan-perusahaan seperti Amazon (Kindle Fire), Barnes & Noble (Nook), Ouya, Baidu, dan yang lainnya, untuk berbondong-bondong merilis perangkat lunak dan perangkat keras yang bisa beroperasi pada versi Android. Alhasil, situs teknologi Ars Technica menyebut Android sebagai "sistem operasi standar untuk meluncurkan perangkat keras baru" bagi perusahaan tanpa harus memiliki platform seluler sendiri. Sifat Android yang terbuka dan fleksibel juga dinikmati oleh pengguna: Android memungkinkan penggunanya untuk mengkustomisasi perangkatnya secara ekstensif, dan aplikasi juga tersedia bebas di toko aplikasi non-Google dan di situs-situs pihak ketiga. Faktor ini menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki oleh ponsel Android jika dibandingkan dengan ponsel lainnya.

Meskipun Android sangat populer, dengan tingkat aktivasi perangkat tiga kali lipat lebih tinggi dari iOS, ada laporan yang menyatakan bahwa Google belum mampu memanfaatkan produk mereka secara maksimal, dan layanan web pada akhirnya mengubah Android menjadi penghasil uang, seperti yang telah diperkirakan oleh para analis sebelumnya. The Verge berpendapat bahwa Google telah kehilangan kontrol terhadap Android karena luasnya kustomisasi yang bisa dilakukan oleh pengembang dan pengguna, juga karena tingginya proliferasi aplikasi dan layanan non-Google – misalnya Amazon Kindle Fire mengarahkan pengguna untuk mengunjungi Amazon app store, yang bersaing langsung dengan Google Play. SVP Google, Andy Rubin, yang posisinya sebagai kepala divisi Android digantikan pada bulan Maret 2013, disalahkan karena gagal dalam membangun kemitraan yang sehat dengan para produsen ponsel. Pemimpin utama produk-produk Android di pasar global adalah Samsung; salah satu produknya, Galaxy, berperan penting dalam pengenalan merek Android sejak tahun 2011. Sedangkan produsen ponsel Android lainnya seperti LG, HTC, dan Motorola Mobility milik Google, telah berjuang keras untuk memasarkan produknya sejak tahun 2011. Ironisnya, di saat Google tidak mendapatkan apapun dari hasil penjualan produk Android secara langsung, Microsoft dan Apple malah berhasil memenangkan gugatan atas pembayaran royalti paten dari produsen perangkat Android.

Android juga dikatakan sangat "terfragmentasi", yaitu suatu kondisi saat berbagai perangkat Android, baik dari segi variasi perangkat keras dan perbedaan perangkat lunak yang berjalan, ditugaskan untuk mengembangkan aplikasi agar bisa berjalan secara konsisten, lebih rumit jika dibandingkan dengan iOS, yang aplikasinya kurang bervariasi. Sebagai contoh, menurut data OpenSignal pada Juli 2013, terdapat 11.868 model perangkat Android dengan berbagai ukuran layar dan versi Android, sedangkan sebagian besar pengguna iOS menggunakan perangkat iPhone dengan versi terbaru.

Tablet Android
Meskipun sukses di telepon pintar, pengadopsian Android untuk komputer tablet awalnya berjalan lambat. Salah satu penyebab utamanya adalah adanya situasi yang dikenal dengan "ayam atau telur", yaitu kondisi ketika konsumen ragu-ragu untuk membeli tablet Android karena kurangnya aplikasi tablet yang berkualitas tinggi, sementara di sisi lain, para pengembang juga ragu-ragu untuk menghabiskan waktu dan sumber daya mereka untuk mengembangkan aplikasi tablet sampai tersedianya pasar yang signifikan bagi produk tersebut. Konten dan "ekosistem" aplikasi terbukti lebih penting jika dibandingkan dengan spesifikasi perangkat keras setelah dimulainya penjualan tablet. Karena kurangnya aplikasi untuk tablet pada 2011, tablet Android awalnya terpaksa harus memasang aplikasi yang diperuntukkan bagi telepon pintar, sehingga ukuran layarnya tidak cocok dengan layar tablet yang besar. Selain itu, lambannya pertumbuhan tablet Android juga disebabkan oleh dominasi iPad Apple yang memiliki banyak aplikasi iOS yang kompatibel dengan tablet.

Pertumbuhan aplikasi tablet Android perlahan-lahan mulai meningkat, namun, di saat yang bersamaan, sejumlah besar tablet yang menggunakan sistem operasi lain seperti HP TouchPad dan BlackBerry PlayBook juga dirilis ke pasaran untuk memanfaatkan keberhasilan iPad. InfoWorld menjuluki bisnis ini dengan sebutan "bisnis Frankenphone"; suatu peluang investasi rendah jangka pendek yang memaksakan penggunaan OS telepon pintar Android yang dioptimalkan (sebelum Android 3.0 Honeycomb untuk tablet dirilis) pada perangkat dengan mengabaikan antarmuka pengguna. Pendekatan ini gagal meraih traksi pasar dengan konsumen serta memperburuk reputasi tablet Android. Terlebih lagi, beberapa tablet Android seperti Motorola Xoom dibanderol dengan harga yang sama, atau lebih mahal dari iPad, yang semakin memperburuk penjualan. Pengecualian ada pada Kindle Fire Amazon, yang dijual dengan harga lebih murah dan kemampuan untuk mengakses konten dan "ekosistem" aplikasi Amazon.

Hal ini mulai berubah pada tahun 2012 dengan dirilisnya Nexus 7, dan adanya dorongan dari Google kepada para pengembang untuk menciptakan aplikasi tablet yang lebih baik. Pangsa pasar tablet Android akhirnya berhasil menyalip iPad pada pertengahan 2012.

Pangsa pasar
Perusahaan riset Canalys memperkirakan bahwa pada kuartal kedua 2009, Android memiliki pangsa penjualan telepon pintar sebesar 2,8% di seluruh dunia. Pada kuartal keempat 2010, jumlah ini melonjak menjadi 33%, menjadi platform telepon pintar terlaris di dunia.[19] Hingga kuartal ketiga 2011, Gartner memperkirakan lebih dari setengah (52,5%) pasar telepon pintar global dikuasai oleh Android. Menurut IDC, pada kuartal ketiga 2012, Android menguasai 75% pangsa pasar telepon pintar global.

Pada bulan Juli 2011, Google mengungkapkan bahwa terdapat 550.000 perangkat Android baru yang diaktifkan setiap harinya, meningkat dari 400.000 per hari pada bulan Mei, dan secara total, lebih dari 100 juta perangkat Android telah diaktifkan di seluruh dunia, dengan pertumbuhan 4,4% per minggu. Pada bulan September 2012, 500 juta perangkat Android telah diaktifkan, dengan 1,3 juta aktivasi per hari. Pada Mei 2013, di Google I/O, Sundar Pichai mengumumkan bahwa total perangkat Android yang telah diaktifkan berjumlah 900 juta.

Pangsa pasar Android bervariasi menurut lokasi. Pada bulan Juli 2012, pangsa pasar Android di Amerika Serikat adalah 52%, dan meningkat hingga 90 % di RRT. Selama kuartal ketiga 2012, pangsa pasar telepon pintar Android di seluruh dunia adalah 75%, dengan total perangkat yang diaktifkan berjumlah 750 juta dan 1,5 juta aktivasi per hari.

Pada bulan Maret 2013, pangsa Android di pasar telepon pintar global dipimpin oleh produk-produk Samsung, yakni sebesar 64%. Perusahaan riset pasar, Kantar, melaporkan bahwa platform besutan Google menyumbang lebih dari 70% dari seluruh penjualan perangkat telepon pintar di RRT selama periode ini. Masih pada periode yang sama, tingkat loyalitas terhadap penggunaan produk-produk Samsung di Inggris (59%) adalah yang tertinggi kedua setelah Apple (79%).

Hingga November 2013, pangsa pasar Android dikabarkan telah mencapai 80%. Dari 261,1 juta telepon pintar yang terjual pada bulan Agustus, September, dan Oktober 2013, sekitar 211 juta di antaranya adalah perangkat Android.

Penggunaan di perangkat lain
Sifat Android yang terbuka dan bisa dikustomisasi menyebabkan sistem operasi ini juga digunakan pada perangkat elektronik lainnya, termasuk laptop dan netbook, smartbook, Smart TV (Google TV), dan kamera (Nikon Coolpix S800c dan Galaxy Camera). Selain itu, sistem operasi Android juga mengembangkan aplikasinya pada kacamata pintar (Google Glass), jam tangan, penyuara kuping, CD mobil dan pemutar DVD, cermin, pemutar media portabel, jaringan tetap, dan telepon VoIP. Ouya, sebuah konsol permainan video yang menggunakan sistem operasi Android, menjadi salah satu produk Kickstarter yang paling sukses, didanai sebesar $8,5 juta untuk pengembangannya, yang kemudian diikuti oleh konsol permainan video berbasis Android lainnya seperti Project Shield besutan Nvidia.

Pada tahun 2011, Google memperkenalkan "Android@Home", teknologi otomatis baru yang memanfaatkan Android untuk mengontrol beberapa alat-alat rumah tangga seperti kontak lampu, soket listrik, dan termostat. Mengontrol lampu dikatakan dapat dikendalikan dari ponsel atau tablet Android. Pimpinan Android Andy Rubin menegaskan bahwa "menyalakan dan mematikan lampu bukanlah hal yang baru, Google berpikir lebih ambisius dan tujuannya adalah untuk menggunakan posisinya sebagai penyedia jasa awan guna membawa produk-produk Google ke rumah pelanggan."

Pada bulan Agustus 2011, Parrot meluncurkan sistem stereo mobil dengan platform Android, yang dikenal dengan Asteroid dan dilengkapi dengan perintah suara. Pada September 2013, Clarion merilis sistem stereo mobil dengan platform Android yang lebih maju, yang dikenal dengan AX1 dan Mirage, menggunakan Android 2.3.7 dan 2.2 (Gingerbread) dan dilengkapi dengan navigasi berbasis GPS, layar 6,5 inci, dan berbagai pilihan untuk akses data nirkabel.

Berbagai perangkat lainnya, meskipun tidak menggunakan Android, juga dirancang dengan antarmuka yang berfungsi sebagai pendamping atau pelengkap bagi perangkat Android, misalnya SmartWatch Sony atau Galaxy Gear Samsung.

Referensi: Wikipedia Indonesia